Cara Menjadi Pemerkosa Sebaik-baiknya dan Sehormat-hormatnya

Hans David
Follow Me:

Hans David

Jurnalis & Affiliate Blogger at HansDavidian.com
Wartawan yang di waktu senggangnya mencari extra income lewat affiliate marketing. Dapatkan info gratis cara saya mendapatkan Rp 420,000 lewat 2 tweet iseng-iseng berhadiah di sini.
Hans David
Follow Me:

Saya akan langsung to the point saja.

Cara menjadi pemerkosa sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya adalah dengan menjadi social justice warriors.

Di bidang apa saja.

Mau jadi anak skena sastra kek, anak pembela Hak Asasi Manusia kek, anak kiri kek, anak agamis kek dan bahkan anak anti-kekerasan seksual dan feminisme.

Dua yang terakhir itu malah justru lahan paling enak untuk digarap kalau kalian ingin menjadi pemerkosa sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Kenapa? Karena akan ada banyak sekali apologi dari teman-teman satu circle kalian kalau-kalau kalian tersandung kasus selangkangan.

Bagaimana tidak?

Tahun lalu, contohnya, di sebuah event literatur terbesar se-Asia Tenggara, saya melihat sendiri bagaimana seorang serial rapist dan predator bisa dielu-elukan oleh anak-anak sastra.

Cowok? Bukan. Cewek? Gak jelas juga. Yang jelas sih model anak-anak social justice warriors yang sok-sokan mengidentifikasikan gendernya sebagai trinari, binari atau helikopter apache sekalian lah kalau perlu.

Tapi kan kalaupun ada yang bilang “oi orang itu pernah mencoba memerkosa saya dengan menyosor bibir saya tanpa ijin ketika saya mabuk” ya mana ada yang akan percaya. Secara dia itu pencitraan di media sosial sebagai aktivis anti-kekerasan seksual pun begitu bagus dan paripurna.

Coba saja anda melontarkan bercandaan yang menyerempet-nyerempet seksis. Beliau adalah orang pertama yang akan menggerakkan dedemit-dedemitnya untuk membully anda habis-habisan dan melabeli anda misoginis dan lain-lain.

Tapi kalo mau menjadi aktivis yang punya privilege memerkosa dan dibelain oleh para kameradnya ya tidak bisa terjadi dalam satu malam, kawan.

Kalian harus bisa konsisten mencitrakan diri kalian sebagai pemimpin pergerakan. Inisiator. Trigger. Revolusioner. Hazeg banget pokoknya. Plus jangan lupa edgy-edgy gitu narasinya. Intinya kalian harus jadi sosok leader. Punya kekuasaan. Biar bisa manipulasi korban dan massa. Asik kan?

Di era media sosial sekarang ini gampang banget kok untuk jadi pemimpin pergerakan.

Tidak usahlah kalian ketemu korban pemerkosaan beneran dan dengerin ceritanya sepenuh hati sampai kalian pun kadang-kadang terbawa traumanya dan mengalami mimpi buruk juga seperti layaknya aktivis-aktivis yang beneran berjuang.

Kalian cukup marah-marah saja di media sosial kalau ada hal-hal yang menurut kalian tidak sesuai dengan garis perjuangan kalian.

Pasanglah pose kritis progresif.

Kritik segala sesuatu.

Dari balik keyboard and touch screen.

Mention-mentionanlah dengan aktivis-aktivis di niche yang ingin kalian target agar status sosial kalian di ranah maya terangkat.

Mulai inisiasi gerakan; entah itu galau-galauan baca puisi atau bikin acara nangis-nangisan untuk konsultasi orang-orang depresi. Di sinilah kalian mulai membangun kolam ikan dan menjaring ikan-ikan untuk nantinya bisa kalian pancing dan makan.

Selalu berkata positif di dunia maya. Agar orang banyak melihat kalian adalah sumber inspirasi dan pencerahan.

Intinya kalo mau bisa memerkosa orang dan mendapatkan pembelaan dari orang-orang terhormat tu sama dengan prinsip jualan di internet; people do not buy from you because they like the product but because they trust you.

Nah, sebelum kalian mulai branding sebagai aktivis, ada baiknya kita kembali lagi ke topik aktivisme apaan yang sebaiknya kalian masuki kalau kalian ingin jadi pemerkosa yang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Kalian tentunya tidak mau membangun branding di kolam aktivisme yang isinya orang-orang yang penampakannya ancur gak ketulungan. Kalian, after all, is going to rape people so jangan mau rugi nge-rape orang-orang yang ga bagus-bagus amat penampakannya.

Contohnya ya jangan bangun branding di kolam aktivisme video gaming. Isinya ya geek kagak mandi dan ngurus diri semua 90 persen. Gak selera juga kan?

Seperti saya sebut tadi di atas ada dua kolam aktivisme yang asik banget dimasukkin kalau kalian ingin jadi pemerkosa yang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya yaitu feminisme dan anti-kekerasan seksual.

Kenapa? Karena isinya cantik-cantik dan ganteng-ganteng.

Itu pertama yah….

Kedua, di bidang feminisme dan anti-kekerasan seksual itu kalian bisa nemu banyak banget adek-adek gemes yang lagi semangat-semangatnya bergerak untuk kesetaraan dunia tapi lagi labil-labilnya.

Saking labilnya mereka bahkan kalau sudah diperkosa tidak paham bahwa apa yang terjadi ke mereka itu adalah sebuah pemerkosaan. Yang jelas mereka setiap hari merasakan trauma tapi tidak tahu harus cerita ke mana karena pemerkosanya sudah punya nama besar dan berkawan dengan orang-orang hebat.

Kalaupun mereka akhirnya speak up, yang biasanya terjadi beberapa bulan atau tahun kemudian, orang-orang hebat kawan si pemerkosa ini nantinya yang akan mengeluarkan narasi apologetik “kok baru ngomong sekarang” dan sejenisnya.

Ketiga, aktivisme feminisme dan anti-kekerasan seksual itu banyak beririsan dengan skena-skena lain yang berisikan orang-orang kece tapi galauers juga seperti skena puisi, skena musik naq indie, skena hipster yang tak pernah dimengerti dunia, skena public relation, skena theater, skena film, skena kuliner dan masih banyak lagi. Yang jelas jarang atau hampir gak mungkin beririsan dengan skena video gaming yang ngenes itu.

Contohnya ya orang sastra yang saya sebut di atas tadi. Dia nongol kok di mana-mana. Kalo ada event feminisme, dia ada. Ada event HAM, dia ada. Ada event anti-kekerasan seksual, dia juga ada. Dan di medsos apalagi, selalu jadi garda terdepan membela kaum LGBTQ dan seterusnya.

Di balik itu dia pernah melakukan kekerasan seksual dan doyan memodusi perempuan-perempuan yang tidak seorientasi seksual dengannya untuk bersetubuh kan tidak ada yang berani speak up kan yah walaupun sudah pada tahu pasti kelakuannya.

Tips berikutnya untuk menjadi pemerkosa sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya adalah playing the victim and oppressed minority card.

Tahu kasusnya Kevin Spacey kan? Begitu kasus selangkangannya menguak maka di press releasenya publisis Kevin Spacey menyisipkan pernyataan bahwa Spacey selama ini gay dan ingin menggunakan kesempatan untuk come out as gay.

Hanya dengan pernyataan seperti itu untuk sejenak media lebih konsentrasi ke “heroiknya” keputusan Spacey untuk come out publicly as gay, golongan yang masih menerima banyak diskriminasi, ketimbang ke fakta bahwa he molested a child.

Atau bagaimana dengan Bill Cosby yang publisisnya mencitrakan dia sebagai self made successful black man yang lagi dipersekusi oleh jealousy driven white people journalism ketika dia dituduh sebagai predator seks oleh korban-korbannya?

Asik kan? Jadi kalau kalian dari golongan oppressed minority seperti LGBT, non-muslim dan lain-lain di Indonesia kalian sudah punya satu kartu tuh untuk dipakai kalau tersandung kasus selangkangan.

Dan please….jangan bilang apa yang saya tulis di sini cuma “oknum” gerakan-gerakan aktivisme di Indonesia.

Kalau “oknum” kok yah banyak pelaku-pelakunya.

Kalau “oknum” kok yah pelaku-pelakunya masih bisa cengengesan ke mana-mana dan eksis di acara-acara gaul serta mendapatkan kehormatan dan aplaus.

Sungguh dunia aktivisme NKRI ini penuh dengan lendir dan kemunafikan.

Sumber foto: Liputan 6

Leave A Response

* Denotes Required Field