Kalau teman-teman mendaftarkan diri di newsletter blog saya ini, maka di video pertama saya ada sedikit bercerita tentang pengalaman olah raga saya.

Di keluarga saya sejak dulu memang saya satu-satunya yang menyukai kegiatan olah raga. Walaupun saya gak jago-jago amat, tapi saya suka bergerak dan cenderung hiperaktif waktu saya kecil.

Dari SD sampai SMA saya banyak mengikuti kegiatan olah raga mulai dari lari, softball, berenang, sepak bola dan bela diri seperti pencak silat. Satu-satunya olah raga yang tidak saya ikuti adalah basket dan itu karena saya merasa sangat kesulitan menembak bolanya masuk ke keranjang.

Anyway, ketika masuk kuliah di awal 2000-an, saya berhenti total dari olah raga. Waktu itu kampus saya memang tidak memiliki unit kegiatan olah raga yang rutin dan teman-teman saya bermain sepak bola dari SMA pun sudah tersebar ke berbagai kampus lain baik di Indonesia maupun luar negeri. Satu-satunya kegiatan olah raga rutin yang saya lakukan adalah olah raga otak dalam bentuk permainan cap sah banting dan gaplek. Mainnya enak; tinggal duduk dan naruh-naruh kartu.

Pada waktu itu di Bandung, tempat saya tinggal dan berkuliah dulu, mulai masuk franchise-franchise gym. Ada beberapa teman yang ikutan tapi saya tidak tertarik. Alasan utamanya adalah biaya pada waktu itu. Sebagai mahasiswa yang belum berpenghasilan, membership gym (yang kala itu mungkin hanya sekitar Rp 200 ribuan sebulan) terasa sangat mahal. Belum lagi di usia semuda itu memang belum merasa butuh untuk menjaga kesehatan. Jadi praktis selama 6 tahunan saya kuliah, jarang sekali saya berolah raga. Seingat saya cuma ada dua kali saya bermain futsal sewaktu kuliah.

Di tahun akhir masa kuliah dan setelah lulus menjadi pengangguran dan mencari kerja, saya sebenarnya cukup lumayan rutin kembali berolahraga. Tapi itu pun cuma seminggu sekali bermain futsal bersama teman-teman gereja saya di lapangan SMP-SMA Yahya.

Setelah hampir dua tahun menganggur (ya selama itu saya berusaha cari kerja), di tahun 2008 saya diterima bekerja di sebuah media di Jakarta sebagai seorang wartawan dan mulailah saya merantau.

Jam kerja seorang wartawan, terutama yang masih baru dan harus liputan, itu literally tidak mengenal waktu. Seingat saya, jam kerja selama 12 sampai 16 jam sehari itu lumrah saja terjadi. Dan tentunya hal ini membuat saya makin tidak punya waktu berolahraga. Waktu itu saya berpikir “ah kan liputan itu jalan kaki ke mana-mana buat naik angkutan umum dan ngejar-ngejar narsum. Sama aja olah raga toh.”

Oh, I could not be more wrong….

Karena walaupun saya banyak bergerak semasa liputan, makan saya pun banyak dan hampir semuanya tidak sehat; gorengan, mie instant, fast food, alkohol dan lain-lain.

Sampai tahun 2010-an saya pernah mencapai berat hingga 66 kilogram, jauh di atas berat ideal saya di kisaran 55 kilogram, dan itu isinya banyak oleh lemak.

Sekitar tahun 2011-an, berat hampir 70 kilogram & body fat hampir di angka 30 persen.

Fast forward ke tahun 2015, di mana saya sudah mulai bekerja sebagai asisten redaktur sehingga jam kerja saya lebih fixed dan bisa mencari waktu untuk berolahraga. Di periode ini, di usia yang tidak lagi muda dan prima, saya merasakan adanya keperluan untuk mulai memperbaiki proporsi tubuh saya.

Kenapa? Karena saya ingat di sekitaran usia inilah almarhum ayah saya dulu mulai membuncit tidak terkontrol sehingga di akhir hidupnya harus melawan diabetes dan kanker. Saya melihat diri saya sendiri dan mulai melihat postur tubuh ayah saya (perut buncit dan otot tidak ada) mulai terlihat. Lalu ketika saya iseng-iseng mendatangi sebuah gym di dekat rumah, saya dibantu konsultannya untuk mengukur kadar lemak di dalam tubuh saya dan waktu itu hasilnya adalah 27%, belum masuk kategori berbahaya tapi sudah mulai harus waspada.

Akhirnya, saya pun mulai meniatkan diri untuk berolahraga dan pada waktu itu yang paling gampang adalah; lari dan bermain sepak bola. Setiap Senin-Rabu-Jumat pagi saya selalu lari 5 kilometer tiap harinya dan di hari Sabtu, saya bermain sepak bola bersama komunitas Bedebah FC. Mungkin karena dulu waktu kecil dan remaja saya suka berolahraga, tidak butuh waktu lama untuk tubuh saya beradaptasi. Setelah bulan pertama, saya sudah nyaman berlari dan bermain sepakbola tanpa merasa ngos-ngosan ingin mati dan bahkan sempat berpikir ingin ikut marathon.

Sayangnya karena mungkin saya over-worked with cardio workouts kayak lari dan sepakbola yang terjadi adalah penurunan berat badan yang sangat drastis dan, lagi-lagi, tidak disertai dengan pembentukan otot. Berat badan saya turun ke 48 kg dari 66 kg dan walaupun saya merasa sehat, teman-teman saya bilang saya mirip dengan tengkorak dan terlihat sangat tidak sehat. Akhirnya saya memutuskan untuk bergabung di sebuah gym dan menyewa seorang personal trainer untuk latihan yang lebih benar sehingga badan saya tidak kering kerontang.

Selama 6 bulan saya didampingi personal trainer, saya mempelajari banyak hal. Salah satunya adalah mengenai pentingnya resistance training (angkat beban) untuk membuat otot kita bertumbuh. Resistance training inipun ada banyak metodenya tergantung tujuan kita; apakah kita mau otot yang sebesar Ade Rai atau yang lean saja. Goals kita akan menentukan cara dan intensitas kita berlatih. Selain itu saya juga belajar pentingnya nutrisi. Olah raga saja ternyata tidak cukup untuk membuat tubuh kita proporsional dan sehat.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Hans David (@hansdavidian) on

Yang menjadi masalah adalah resistance training lama kelamaan menjadi membosankan. Gerakan-gerakannya itu-itu saja. Dan setelah berlatih selama kurang lebih satu tahun, saya rasanya telah sampai ke sebuah plateau yang membuat saya sangat kesulitan untuk menurunkan persentase lemak tubuh saya. Target saya adalah di kisaran 15 sampai 17% tapi setelah setahun melakukan resistance training di gym, saya konstant di 19%.

Akhirnya saya pun mencoba terjun kembali ke olah raga bela diri yaitu MMA (mixed martial arts). Menurut saya, latihan MMA adalah the best kalau teman-teman ingin mendapatkan bentuk tubuh yang proporsional dan daya tahan yang kuat. Di MMA semua dilatih mulai dari cardio sampai strength & conditioning. Sayangnya ada satu hal yang saya kurang nyaman di MMA; sparringnya makai pukul-pukulan baku hantam dan di usia late 30s, kok yah riskan rasanya merisikokan kepala saya terpukul dan mengalami gegar otak. Karena itulah saya akhirnya fokus di aspek grappling-nya saja yaitu Brazilian Jiu Jitsu (BJJ).

Arena MMA BJJ family.

Teman-teman bisa cari info sejarah BJJ dari Judo sampai akhirnya membuat impact yang sangat signifikan di industri baku hantam. Di postingan kali ini saya ingin menyorot bagaimana BJJ, menurut saya, adalah pilihan terbaik dan teraman kalau teman-teman ingin menurunkan berat badan dan membentuk tubuh yang kuat di usia yang mungkin sudah tidak muda lagi.

Latihan BJJ itu practically sama dengan latihan MMA manfaatnya tapi resikonya lebih acceptable. Kalau di MMA, teman-teman bisa kena gegar otak, di BJJ juga sama tapi mungkin tidak setinggi di MMA karena kita tidak latihan pukul-pukulan. Di BJJ, yang dilatih adalah teknik kunci-kuncian dan bergulat.

Nah, di dalam aspek kunci-kuncian dan bergulat inilah fisik kita benar-benar dilatih. Dalam satu sesi kelas, biasanya berlangsung antara satu sampai dua jam, kita bisa men-drill 3 sampai 5 teknik yang mengharuskan kita mengangkat/menanggung beban badan teman latihan kita. Ada juga drill yang sangat-sangat cardio-oriented seperti toreando-pass drill yang kalau dilakukan 10 repetisi saja lumayan bikin ngos-ngosan. Selain ada angkat beban dan cardio, BJJ juga melatih kelenturan kita karena practically kita dilipat-lipat oleh teman latihan kita ketika sparring sehingga tubuh kita lama kelamaan akan terlatih untuk menjadi lebih lentur. Kira-kira beginilah sparring BJJ dan dalam 5 menit rasanya sudah seperti lari sejauh 5 kilometer:

Dan itupun baru satu ronde sparring. Biasanya dalam satu kelas, kita bisa ada minimal 3 ronde sparring untuk mengakhiri kelas dan ada 2 ronde lagi setelah kelas selesai.

Sederhananya BJJ memberikan semuanya untuk teman-teman yang ingin meningkatkan kondisi tubuhnya ditambah bonus yang menurut saya sangat tidak ternilai di jaman sekarang yaitu kemampuan untuk membela diri sendiri. Fitness regiment lain mungkin bisa memberikan manfaat yang sama dalam hal cardio, kekuatan dan kelenturan tapi kalau ingin bisa bela diri? Ya BJJ atau MMA pilihannya tergantung apakah teman-teman suka digebukkin atau tidak. Ditambah lagi di BJJ atau MMA selalu ada hal baru di tiap kelas. Tidak pernah ada kelas yang 100% sama dengan sebelumnya. Selalu ada teknik-teknik baru atau puzzle-puzzle baru dalam sparring yang harus dipecahkan. Asik banget pokoknya.

Dan syukurnya lewat BJJ akhirnya saya menembus batas body fat 19% yang susah sekali lewat latihan resistance training di gym. Setelah berlatih BJJ selama setahun, body fat saya sekarang ada di kisaran 16 sampai 17% dan goal baru saya adalah mencapai angka 15%. BJJ juga bisa membantu meningkatkan kepercayaan diri teman-teman karena disiplin ini benar-benar bisa membuat kalian menjadi mesin pembunuh berjalan. Teknik-tekniknya sudah terbukti efektif dipakai di dalam pertarungan-pertarungan MMA maupun jalanan sehingga teman-teman tidak perlu merasa kuatir kalau ada netijen yang sok-sokan mau nantang ataupun nyamperin ke tempat kerja teman-teman. BJJ gives you super power.

Kalau teman-teman ingin mulai berlatih BJJ, untuk wilayah Jakarta kalian bisa bergabung latihan dengan saya dan kawan-kawan lainnya di Arena MMA di dalam gym Fit By Beat Setiabudi One setiap Selasa, Kamis dan Jumat jam setengah 8 malam. Ada dua kali free trial buat orang yang pertama kali ingin coba BJJ. Saran saya; gak ada salahnya mencoba. Karena cuma dengan mencobalah teman-teman bisa menilai apakah BJJ cocok atau tidak.

Anyway, ini adalah pendapat dan pengalaman saya pribadi. Kalau teman-teman menemukan olah raga lainnya yang lebih nyaman buat teman-teman ya mengapa tidak. Monggo share di kolom komen di bawah tentang apa saja olah raga yang rutin teman-teman lakukan dan manfaatnya sejauh ini.

Follow Me:

Hans David

A lifestyle journalist and a student of the gentle art with Alliance Jiu Jitsu Indonesia.
Hans David
Follow Me:

Leave a Reply

Your email address will not be published.