Blog ini sudah agak lama tidak saya update karena dalam waktu kurang lebih satu setengah bulan terakhir, saya sedang sibuk mempersiapkan diri untuk berkompetisi di Jakarta Brazilian Jiu Jitsu Open 2019.

Kompetisi ini adalah kompetisi BJJ kedua yang saya ikuti dan berlangsung di Chandra Wijaya Badminton Center di Tangerang Selatan pada hari Sabtu kemarin tanggal 9 Desember.

Kompetisi pertama saya adalah di Springroll Open tahun lalu dan saya langsung mengalami kekalahan di ronde pertama. Untuk kompetisi kali ini, saya bertekad untuk memenangi medali emas karena saya merasa cukup percaya diri dengan kemampuan teknik saya setelah kurang lebih satu setengah tahun berlatih.

Dalam persiapan menghadapi kompetisi ini, saya berlatih minimal 4 kali dalam seminggu dan terkadang bisa 5 kali di berbagai gym BJJ yang terafiliasi dengan tim utama saya yaitu Alliance Jiu Jitsu. Proses persiapan ini memang sangat melelahkan kepada fisik saya.

Dalam satu sesi latihan, saya minimal melakukan sparring 5 ronde dengan durasi waktu 5 menit per ronde untuk mempersiapkan conditioning saya pada saat kompetisi nantinya. Setiap sparring, saya selalu fokus untuk melakukan gameplan saya dan mengeksekusi kombinasi serangan yang sederhana tapi efisien dan efektif.

Gameplan saya secara garis besar cuma terdiri dari pull guard kemudian melihat situasi apakah saya melakukan sweep atau langsung melakukan kuncian. Guard yang saya latih secara lebih mendalam adalah half guard (karena guard ini jauh lebih mudah didapatkan dan secara umum lebih sering terjadi ketimbang closed guard) dan x-guard. Saya secara intense melakukan latihan dan sparring menggunakan kombinasi transisi kedua guard ini karena buat saya pribadi kedua teknik ini paling nyaman untuk melakukan sweep atau melakukan kuncian terutama ke kaki lawan.

Soal kuncian kaki, saya memang beberapa bulan terakhir memang menyukai serangan ini. Saya juga cukup beruntung gym tempat saya berlatih cukup liberal untuk membolehkan dan mengajarkan kuncian kaki ke murid-murid white belt.

Saya menyukai serangan ini karena secara umum, orang-orang yang berlatih BJJ terutama di gi (kimono) sangat aware untuk melindungi daerah leher dan tangan mereka agar tidak dicekik maupun dikunci. Tapi khusus untuk bagian di bawah pinggang, yaitu kaki, mereka suka agak lengah dan kalau diserang, biasanya mereka akan menjadi agak panik sehingga membuka opportunity serangan lain di bagian atas tubuh ataupun sweep.

Jadi ya begitu selama satu setengah bulan ini saya terus menerus melatih gameplan saya yang sederhana tadi serta mempertajam teknik kuncian kaki saya. Memang lama kelamaan teman sparring saya bisa membaca strategi saya tapi seperti kata Bruce Lee “I do not fear the man who does 10,000 kicks once but I fear the man who does one kick 10,000 times” yang berarti satu teknik yang dilatih secara konsisten terus menerus akan jauh lebih mematikan ketimbang melatih ribuan teknik tapi cuma sekali saja untuk masing-masing teknik.

Anyway, hari kompetisi pun akhirnya tiba. Hari Jumat malam saya tidur lebih cepat sekitar pukul 9 malam dengan harapan saya bisa bangun pukul 8 pagi untuk segera berangkat ke venue yang berjarak dekat dengan rumah saya di Serpong. Apa daya pukul 3 subuh saya tiba-tiba kebangun, mungkin karena pre-competition anxiety, dan akhirnya tidak bisa tidur lagi sampai paginya.

Jadi ya sudahlah saya langsung berangkat saja ke venue untuk melakukan timbang badan resmi sejak pagi walaupun jadwal pertandingan saya baru jam 11 siang. Kompetisi tahun ini benar-benar sangat profesional penyelenggaraannya. Kualitas mat sangat bagus lalu proses timbang berat badan juga nyaman dan cepat.

Tapi yang paling mengesankan adalah posisi tempat menonton yang sangat strategis yaitu di atas. Di kompetisi tahun lalu, penonton berjejal di pinggiran mat dan membuat suhu menjadi sangat panas buat peserta karena dikelilingi ratusan manusia. Kali ini, ada space yang cukup antara penonton dan peserta. Hal ini juga membuat peserta yang bertanding lebih mudah mendengarkan arahan dari cornerman masing-masing. Overall, secara penyelenggaraan, saya acungkan dua jempol untuk kompetisi BJJ kali ini dan kepada panitia, banyak terima kasih untuk semua kerja kerasnya.

Sembari menunggu waktu saya bertanding, saya menonton dan mendukung teman-teman setim saya dari Alliance Jiu Jitsu yang turun bertanding. Dari pagi, tim kami sudah berhasil mengumpulkan beberapa medali. Teman saya Billy dan Nicoline berhasil memenangkan medali emas di divisi mereka masing-masing dengan relatif mudah mengalahkan lawan-lawannya. Sementara teman saya yang lain, Dimas, kalah secara dramatis dengan selisih 2 poin di detik-detik akhir melawan salah satu grappler muda terbaik di Indonesia yaitu Veron.

Ketika jam mendekati angka 11, akhirnya nama saya dipanggil ke bawah untuk bersiap-siap. Walaupun, saya sudah melakukan persiapan cukup panjang dan membuat visualisasi strategi saya di dalam kepala selama berminggu-minggu, tetap saja ada rasa grogi ketika menunggu giliran tampil. Saya pun memutuskan untuk menenangkan pikiran dan menarik nafas panjang sebelum mulai bertanding dan zone into the match.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Hans David (@hansdavidian) on

Sejak dimulai, saya sudah tidak mau memikirkan strategi lain. Pokoknya pull ke half guard, entah itu ujung-ujungnya mau dapat z-guard atau apapun, saya cukup pede kalau saya bisa menyerang dari posisi itu. Di pertandingan pertama, saya langsung pull guard begitu saya mendapatkan grip ke kerah lawan saya. Dari reverse de la Riva, saya transisi ke deep half guard dan langsung bisa melakukan sweep untuk mendapatkan 2 point pertama saya. Hasil latihan berminggu-minggu terasa karena di sweep pertama ini kalau saya terlalu nafsu, biasanya saya kejebak triangle choke. Tapi di sini saya memastikan dulu kedua tangan saya ada di posisi aman sehingga tidak ada yg bisa diisolasi untuk kemudian dijadikan triangle choke oleh lawan.

Setelah mendapatkan sweep, tugas saya berikutnya adalah melewati guard lawan dan mengunci. Akan tetapi lawan saya memiliki kelenturan sehingga amat sulit bagi saya untuk melewati kedua kakinya dan mengontrol tubuh bagian atasnya. Anyway, saya menyadari sepenuhnya walaupun saya ada di atas, selama saya ada di dalam guard lawan, maka selalu ada kemungkinan saya yang kena sweep atau submission. Di sini saya kembali bermain sabar dan mengatur nafas yang sudah mau habis. Saya juga beberapa kali mencoba melakukan straight foot lock tapi lawan saya berhasil kabur.

Akhirnya di menit terakhir, saya mengijinkan lawan saya untuk kembali berdiri untuk mencoba melakukan guard pull lagi dan melakukan sweep. Guard pull dan sweep yang terakhir persis sama dengan yang pertama hanya kali ini lawan agak cepat bereaksi sehingga dia hampir mendapatkan back saya. Untungnya saya kembali mengisolasi salah satu kaki dia sehingga hook-nya tidak sempurna dan akhirnya dia kembali ada di posisi bawah.

Kemenangan saya raih setelah saya melakukan over-under stacking ke lawan saya. Di posisi ini, saya yakin bisa menahan orang seberat apapun untuk tetap ada di bawah karena saya practically menaruh seluruh beban tubuh saya ke leher belakang lawan saya.

Sayangnya di pertandingan kedua, setelah performa yang lumayan keren dengan kembali melakukan dua sweep, saya kalah lewat bow and arrow choke karena melakukan kesalahan bodoh tidak mengaddress grip lawan di kerah saya. Lawan saya di pertandingan kedua, Alfathery dari De Been Jiu Jitsu, akhirnya menjadi juara di divisi saya sementara saya berhasil mendapatkan medali perunggu.

Kalau ditanya apakah saya kecewa, ya agak-agak kecewa sih cuma dapat medali perunggu. I know I could have done better. I know I have so much more moves to dish out. Tapi memang pada situasi pertandingan, terkadang intensitasnya membuat kita kehilangan fokus dan siapapun yang bisa lebih konsisten ke gameplan dan strateginya di tengah-tengah semua rasa lelah dan tekanan, dialah yang akan menang. Kemarin, lawan saya jauh lebih dewasa dari segi strategi dan fokus sehingga dia menang fair and square, congrats to him.

Tapi di sisi lain ya saya cukup senang juga bisa merasakan kemenangan pertama di kompetisi BJJ. I actually beat a guy who trains how to hurt and kill me, not some random netizens yang cuma bisa bacot mau nyamperin doank. Plus, I won a medal. Udah lama banget kayaknya saya gak memenangkan sesuatu dan pengalaman kemarin itu terasa sangat menyenangkan.

Secara tim, Alliance Jiu Jitsu juga cukup sukses dengan meraih peringkat 2 di klasemen overall. Rasio kemenangan tim saya sebesar 62% dan juara umum de Been 68%.

Selesai bertanding, saya tetap ada di lokasi untuk memberikan dukungan kepada anggota tim Alliance Jiu Jitsu lain yang masih akan bertanding. Banyak di antara mereka yang baru pertama kali berkompetisi dan langsung kalah.

Ada juga yang kalah tapi tetap mendapatkan medali karena jumlah peserta di divisinya paling banyak cuma 3 orang sehingga mereka tetap merasakan kekecewaan.

Alliance Jiu Jitsu Indonesia big family all coming together.

Tapi ya itu semua adalah proses. Yang penting itu adalah fakta siapapun yang berani masuk ke dalam mat area dan bertarung itu sudah membuktikan dirinya punya nyali dan keberanian. Gak semua orang punya cukup nyali untuk masuk dan bertarung melawan orang yang memang bertujuan mencekik dan mematahkan tulang kita. Orang yang jadi lawan kita itu pun terlatih pula. Jadi walaupun kalah, give yourself a pat in the back because you are a far more bad ass person than those who could only talk smack behind a computer screen on the internet.

Overall, I had a lot of fun yesterday. Saya sungguh sangat mengharapkan kompetisi BJJ seperti ini bisa lebih sering diadakan. Apalagi sekarang kan sudah ada federasi Brazilian Jiu Jitsu tersendiri di Indonesia. At least 6 bulan sekali kalau bisa ada kompetisi seperti ini karena memang sangat menyenangkan untuk berkompetisi dan mengukur skill level kita melawan orang lain.

See you guys in the next competition, oss!

Follow Me:

Hans David

A lifestyle journalist and a student of the gentle art with Alliance Jiu Jitsu Indonesia.
Hans David
Follow Me:

Leave a Reply

Your email address will not be published.