Ya, akhirnya pada tanggal 13 Desember 2019, saya berhasil menyelesaikan tahap pertama di Brazilian Jiu Jitsu (BJJ) yaitu menjadi seorang blue belt.

Menjadi seorang blue belt bukanlah hal yang mudah.

Ya, kalau mau dibilang saya pamer monggo. Tapi memang fakta statistiknya 9 dari 10 orang yang mendaftar kelas BJJ (yang beneran bukan yang abal-abal) tidak pernah bisa mencapai peringkat blue belt.

Itu bukan statistik lebay buat nunjukkin BJJ adalah bela diri yang keras banget atau bad ass banget tapi memang saya mengalami sendiri.

Dari seluruh white belt yang bergabung 6 bulan sebelum ataupun 6 bulan sesudah saya (satu angkatan), hanya saya yang tersisa di akhir tahun ini dan bisa mendapatkan blue belt. Jadi ya wajar-wajar aja kalau saya merasa bangga.

 

View this post on Instagram

 

21 months, at least 250 classes & around 1,000 rounds of sparrings against fully resisting opponents. All of these to unlock a new chapter in my BJJ journey tonight. Thank you Prof. @deddywigraha for patiently guiding me through this journey & awarded my blue belt. Thank you to all my training partners at @arena_jiujitsu @alliancebjjindonesia @alliancebjjjakarta @westside_bjj. I started this journey after a very dark episode in my life and through BJJ, I find a new family that I always look for every single week. This….weird, crazy art of simulating murder attempts somehow gives me a reason to live, something I thought I had lost a couple of years ago. I’ll write more about what BJJ means to me & what it has done to me on my blog. Now, I just want to cherish this moment. Oss.

A post shared by Hans David (@hansdavidian) on

Selain rasa bahagia dan bangga, saya juga sadar bahwa menjadi seorang blue belt itu berarti saya membawa tanggung jawab lebih dan juga harus lebih keras dalam latihan kepada diri saya sendiri untuk meningkatkan jiu jitsu saya.

Jujur saya mengakui bahwa masih banyak lubang dalam jiu jitsu saya yang perlu saya perbaiki. Saya harus mulai berani keluar dari zona nyaman saya yang cenderung cari shortcut untuk mengalahkan lawan saya.

With my instructor, Prof. Deddy Wigraha, 2nd degree BJJ black belt.

Selama di white belt, saya sangat nyaman bermain sebagai seorang guard player (bottom game). Hal yang terjadi secara natural karena dari awal saya sangat sering ditiban oleh teman-teman latihan yang lebih berpengalaman.

Karena sering posisi di bawah, saya “dipaksa” untuk menjadi nyaman dalam posisi guard dan lama-kelamaan memang saya jadi lebih senang ditiban daripada berusaha mencari takedown atau main dengan posisi di atas.

Akibat sering main sebagai seorang guardiero pula akhirnya saya merasa teknik guard passing saya masih sangat terbatas. Hampir dua tahun latihan dan cuma dua jenis guard pass yang saya kuasai yaitu over-under dan double-under, teknik yang sebenarnya lebih cocok untuk orang-orang berbadan besar ketimbang mahluk mungil lemah lembut seperti saya.

Keterbatasan teknik guard pass juga yang akhirnya membuat saya lebih banyak bermain “cheat code” yaitu memakai kuncian kaki ketimbang berusaha mengambil posisi atas dominan.

Leg locks are legitimate techniques tapi dalam konteks jiu jitsu sebagai self defense yang benar teknik kuncian kaki sebenarnya tidak terlalu disarankan. It looks cool in sports competitions but in real life fights, going after leg locks leaves you vulnerable to be stomped or punched. Karena inilah saya sekarang sebagai blue belt mau lebih banyak fokus di teknik guard pass dan memakai “good jiu jitsu”.

Anyway, buat kalian yang ingin memulai atau saat ini sedang dalam posisi white belt, jalani terus prosesnya. Memang di awal BJJ itu terasa sangat berat tapi pada akhirnya akan berasa magic-nya. Untuk mendapatkan sharing lebih detil mengenai white belt journey saya, silahkan tonton video di bawah:

Follow Me:

Hans David

A lifestyle journalist and a student of the gentle art with Alliance Jiu Jitsu Indonesia.
Hans David
Follow Me:

Leave a Reply

Your email address will not be published.