Kalau kamu ingin turun berat badan atau membentuk otot, maka steak sapi adalah salah satu makanan yang bisa kamu masukkan ke dalam program diet kamu.

Selain rasanya enak, steak sapi juga merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung banyak nutrisi penting seperti zat besi, zinc dan vitamin B12.

Dalam tiap 100 gram steak sapi, terdapat kurang lebih 25 gram protein (50% dari angka kebutuhan protein harian rata-rata orang kebanyakan). Tentunya angka ini bervariasi dari satu jenis sapi ke yang lainnya tapi ini cukup untuk menjadi acuan.

Kalaupun ada kekurangan dari steak sapi adalah harganya yang cukup mahal. Kalau kita beli di resto, minimal kita spend Rp 200,000 untuk mendapatkan steak sapi berukuran kurang lebih 200 gram.

Kita bisa lebih berhemat kalau kita membeli sendiri dagingnya dan memasak sendiri di rumah. Tergantung jenis daging sapi apa yang kita beli, kita bisa mendapatkan steak sapi mulai dari Rp 40,000/100 gram sampai Rp 180,000/100 gram. Yang murah biasanya dari daging sapi lokal sedangkan yang mahal biasanya yang berjenis wagyu Jepang dan Black Angus Amerika yang dijual di steakhouse-steakhouse khusus.

Jenis-jenis steak sapi

Di Indonesia sendiri pada umumnya ada 3 jenis cut (potongan) steak sapi yang banyak dijual yaitu tenderloin, sirloin dan rib-eye. Kita bahas satu-satu di bawah:

Tenderloin

Credit: Qualityfood.ae

Tenderloin memiliki banyak variasi nama, di antaranya; fillet, fillet mignon, eye fillet dan lain-lain. Intinya adalah ini bagian dari daging sapi yang paling lunak karena berasal dari bagian badan yang tidak banyak dipakai si sapi untuk bekerja sehingga ototnya pun tidak keras.

Tenderloin juga sangat lunak karena tidak mengandung banyak lemak. Jadi potongan ini sangat cocok buat orang-orang yang ingin mendapatkan sumber protein dari daging sapi yang paling lean (tidak berlemak).

Di sisi lain, karena tenderloin mengandung sedikit lemak, flavor atau rasanya pun tidak se-beefy potongan lain yang lebih berlemak seperti sirloin dan rib-eye. Supaya tenderloin memiliki lebih banyak flavor maka sering diakali dengan menambah lebih banyak bumbu ketika memasaknya.

Sirloin

Credit: TurnerandGeorge.co.uk

Sirloin terletak dengan tenderloin pada bagian tubuh sapi tapi karakteristik potongan ini sangat berbeda. Sirloin memiliki banyak lemak dan tidak selunak tenderloin. Secara fisik, sirloin memiliki lapisan lemak (fat cap) yang sangat tebal di salah satu pinggirannya.

Potongan ini cocok kalau kamu ingin merasakan flavor beefy yang kuat dari steak kamu. Sama seperti tenderloin, potongan sirloin ini juga banyak memiliki nama alias seperti short loin, rump dan New Yorker steak.

Rib Eye

Credit: mishimareserve.com

Potongan ini adalah jenis steak favorit saya karena rib eye memiliki cukup banyak lemak sehingga rasa beefy-nya terasa dan di saat bersamaan juga lebih tender dibanding sirloin.

Secara fisik, rib eye lebih kentara intramuscular fat-nya di area daging. Ini yang disebut dengan marbling. Rib eye dari daging wagyu Jepang memiliki score marbling mulai dari 1 sampai dengan 10. Semakin tinggi, semakin kentara marbling-nya. Ketika steak dimasak, marbling ini akan meleleh dan memberikan aroma dan rasa beefy yang sangat kuat ke steak.

Rib eye juga ada yang dijual bone-in (dengan tulang menempel) atau hanya dagingnya saja. Ada yang bilang dengan bone-in, rasanya akan lebih gurih makanya yang bone-in dijual lebih mahal. Saya pribadi tidak merasakan banyak perbedaan.

Medium rare, medium atau well done?

Credit: butcherbox.com

Masih cukup banyak orang yang memesan steak sapi di tingkat kematangan well done karena tidak suka makan daging yang masih “berdarah” di dalamnya.

Padahal steak well done adalah steak yang sudah hancur dan tidak ada gunanya lagi untuk dimakan karena sebagian besar proteinnya sudah hilang.

Warna merah di dalam daging steak pada tingkat kematangan medium rare dan medium itu bukanlah darah karena seluruh darah sapi sudah dikeluarkan pada proses penjagalan. Warna merah itu adalah myoglobin, sejenis protein di dalam daging sapi.

Jadi kalau kamu memasak steak sampai dalamnya coklat abu-abu, maka kamu practically sudah menghilangkan protein-nya. Selain itu, steak yang well done juga sudah kehilangan tenderness-nya sehingga jauh lebih sulit untuk dikunyah.

Saran saya, ketika memesan steak, pesanlah di tingkat kematangan medium at the most. Kalau lebih tinggi dari itu kamu cuma membuang-buang uang saja.

Cara memasak steak sapi

Nah sekarang harusnya sudah paham bahwa paling bagus steak sapi itu dimakan pada tingkat kematangan medium rare. Ada tingkat kematangan yang jauh lebih rare yaitu “blue” tapi di sini bagian dalam daging itu terasa sangat dingin dan agak susah membuat “crust” luar yang crunchy karena memasak di tingkat ini ya harus sangat cepat.

Okay, a good steak is pink on the inside and crusty on the outside. Jadi kalau ingin merasakan experience makan steak yang nikmat, kita harus bisa membuat si daging berwarna pink di dalam tapi bagian luarnya memiliki tekstur crusty. Terus jadi bagaimana memasaknya?

Terus terang masak steak itu gampang banget. Yang kamu butuhkan cuma:

  1. Daging steak yang cukup tebal, minimal 1.5 cm.
  2. Garam: Usahakan yang coarse salt bukan garam dapur biasa karena garam ini yang bakal memberikan tekstur crusty di daging dan flavor untuk steak non-fatty seperti tenderloin.
  3. Black pepper.
  4. Minyak zaitun: Kenapa bukan minyak goreng? Karena minyak zaitun jauh lebih sehat dibanding minyak goreng.
  5. Mentega (opsional): Kalau steak yang kamu makan dari bagian tubuh sapi yang tidak berlemak, boleh tambah mentega untuk menguatkan rasa.
  6. Pan penggorengan: kalau bisa pakai pan yang cast iron. Kalau pan cast iron terlalu mahal, pakai pan yang non-sticky.

Kalau kamu mengeluarkan steak dari freezer kulkas, diamkan dulu di luar sampai tidak membeku alias suhunya sudah mencapai room temperature.

Setelah mencapai room temperature, bumbui steak dengan garam dan black pepper. Bumbui yang banyak karena toh nanti ketika proses memasak di atas pan akan ada banyak bumbu yang lepas atau terbakar jadi jangan ragu-ragu untuk membumbui.

Panaskan pan dan olesi permukaannya dengan minyak zaitun secukupnya. Dua sampai tiga sendok makan sudah cukup. Tunggu sampai pan berasap alias sudah mencapai titik panas tertinggi.

Taruh steak di atas pan di salah satu sisinya dan diamkan. Jangan dibolak-balik terus menerus.

Banyak metode yang dipakai untuk mendeteksi tingkat kematangan steak mulai dari ditekan-tekan pakai ujung jari atau pakai termometer daging.

Saya sendiri pakai metode sederhana dengan mengukur ketebalan daging. Kalau dagingnya setebal 2 cm, maka waktu maksimal saya memasaknya untuk mencapai medium rare adalah dua menit.

Jadi; masing-masing sisi cukup dimasak di atas pan selama 1 menit. Setelah satu menit ya saya balikin ke sisi lainnya. Di flip yang terakhir, kalau saya mau, saya mulai menambahkan mentega, garlic dan herbal-herbal lain seperty thyme dan rosemary lalu saya melakukan yang namanya basting the steak.

Setelah lewat dua menit steak bisa diangkat dari pan lalu ditaruh di atas cutting board. Diamkan dulu selama kurang lebih 5 menit. Ini untuk membuat myoglobin di dalam steak yang tadinya mengkerut selama proses pemasakan untuk kembali menyebar ke seluruh daging. Kalau kamu langsung memotong steak setelah dimasak, yang terjadi adalah myoglobin-nya langsung tumpah dan warna pink yang seharusnya ada di dalam daging jadi menghilang.

Setelah 5 menit, kamu bisa mulai memotong-motong steak dan memakannya.

Kalau masih belum pede untuk memasak steak sendiri, kamu bisa mulai mencoba dengan memasak steak daging sapi lokal yang tidak begitu mahal. Setelah cukup pede, boleh deh mulai mencoba masak daging steak mahal seperti wagyu dan Black Angus.

Follow Me:

Hans David

A lifestyle journalist and a student of the gentle art with Alliance Jiu Jitsu Indonesia.
Hans David
Follow Me:

Leave a Reply

Your email address will not be published.