Struktur Dasar Blog Untuk Affiliate Marketing

Hans David
Follow Me:

Hans David

Jurnalis & Affiliate Blogger at HansDavidian.com
Wartawan yang di waktu senggangnya mencari extra income lewat affiliate marketing. Dapatkan info gratis cara saya mendapatkan Rp 420,000 lewat 2 tweet iseng-iseng berhadiah di sini.
Hans David
Follow Me:

Salah satu topik yang paling sering diajarkan di kursus affiliate marketing manapun adalah blogging.

Ngeblog adalah salah satu cara yang paling newbie friendly untuk orang-orang yang baru belajar affiliate marketing dan metode inipun masih sering dipakai oleh affiliate-affiliate yang telah menjalankan affiliate marketing bertahun-tahun dan berpenghasilan besar.

Kenapa? Karena blog adalah jenis website yang sangat mudah untuk dibuat dan didevelop. Penguasaan dasar-dasar Microsoft Word dan kemampuan drag and drop sudah lebih dari cukup untuk orang yang paling gaptek sekalipun untuk mulai ngeblog.

Blog ada jutaan dan ada berbagai jenis tergantung keperluan si blogger. Ada blog yang memang tujuannya hanya iseng-iseng, ada blog penyebar hoax, ada blog review wisata lendir, ada blog untuk personal branding dan lain sebagainya.

Nah, untuk affiliate marketing, blog yang dibangun juga memiliki karakter dan elemen tersendiri. Saya menyebutnya sebagai struktur dasar karena hampir semua blog affiliate pasti memiliki karakter-karakter seperti ini:

  1. Memakai top level domain dan hosting profesional:

Ini sudah menjadi semacam kewajiban buat tiap affiliate yang ngeblog. Untuk blog yang sekedar iseng-iseng, bolehlah pakai domain numpang seperti ohshitkepencet.blogspot.com atau ohshitkepencet.wordpress.com tapi kalau mau jadi affiliate yang tujuannya memonetize konten blog, ada baiknya gunakan top level domain agar branding lebih kuat dan terlihat lebih profesional.

Selain top level domain, sebaiknya juga menggunakan hosting profesional yang reputable. Karena walaupun kita sudah punya top level domain tapi hosting masih numpang sama Google atau sama WordPress.com, maka suatu waktu kita bisa saja digusur. Misalnya Google ingin menutup layanan Blogspot-nya maka bisa bubar blog kita hari itu juga. Atau kalau di WordPress.com ada saingan kita yang jahat mereport blog kita sebagai blog spam, maka pada saat itu juga blog kita bisa dihapus.

Platform blog yang saya rekomendasikan ya WordPress (yang self-hosted ya bukan yang WordPress.com). Soalnya paling user friendly sepanjang pengalaman saya dan juga terus bermunculan plugin-plugin keren, baik free maupun berbayar, yang bisa menambah fungsi dan fitur blog kita.

2. Memakai landing page yang berbeda dengan blog page:

Banyak affiliate blogger yang memakai blog page mereka sebagai landing page (halaman pertama yang dilihat oleh pengunjung ketika mengetikkan alamat domain blog). Ada baiknya untuk affiliate memakai landing page yang berbeda dengan blog page yang berisi banyak postingan artikel.

Kenapa? Karena kalau pengunjung pertama kali langsung melihat blog page, dia akan langsung kebingungan karena melihat banyak artikel dan link sehingga kemungkinan besar dia akan cabut tidak lama setelah datang ke blog kita.

Sedangkan kalau kita memakai landing page yang simple dan terfokus pada satu tujuan (entah itu membangun list email subscribers atau memperkenalkan siapa diri kita) sebagai gerbang masuk ke blog, maka pengunjung akan langsung mendapatkan gambaran awal tentang apa sih tema utama dari blog kita.

Contoh prakteknya ya di blog saya ini. Untuk landing page di URL HansDavidian.com tujuan utama saya adalah simpel: membangun list subscribers dengan menawarkan pengunjung blog saya untuk mendapatkan studi kasus affiliate marketing dengan memasukkan email mereka. Nah untuk blog, saya taruh di blog page terpisah di http://hansdavidian.com/blog.

3. Membangun list:

List subscribers blog kita adalah aset yang paling penting. Membangun list itu penting karena affiliate marketing adalah tentang kepercayaan dan relationship.

Sebanyak 10 dari 10 orang yang datang ke blog kita tidak akan melakukan pembelian apapun waktu kunjungan pertama dan satu orang perlu diekspos ke produk yang sama minimal 7 kali sebelum akhirnya memutuskan membeli atau tidak.

Oleh karena itu, penting buat kita membangun list email pengunjung blog kita agar bisa berikan edukasi dan follow up mengenai produk-produk yang kita promosikan sebagai affiliate.

Untuk membangun list maka alat tempur yang wajib kita miliki adalah aplikasi autoresponder. Dengan aplikasi ini, kita bisa membangun form agar pengunjung kita bisa mendaftarkan alamat email mereka dan mengirimkan email follow up secara berkala untuk mengedukasi mereka tentang produk-produk yang kita promosikan sebagai affiliate.

Autoresponder yang saya pakai adalah GetResponse dan panduan dasarnya bisa dibaca di sini.

4. Memakai mobile friendly and responsive theme:

Jaman sekarang orang mengakses internet bukan lewat PC saja tapi juga lewat handheld gadgets seperti smartphones dan tablets.

Oleh karenanya sangat penting buat para affiliate menggunakan theme blog yang mobile friendly dan responsive agar terlihat bagus ketika diakses melalui PC desktop maupun mobile gadgets.

Selain itu, Google juga sangat mempertimbangkan mobile friendliness dan responsiveness sebuah blog ketika meranking hasil pencarian mereka. Mau sekeren apapun informasi yang ada di blog kita, kalau tidak mobile friendly dan tidak responsif maka Google akan menganggapnya sebagai konten berkualitas rendah.

5. Menaruh disclaimer affiliate:

Ini sepertinya belum menjadi tradisi atau keharusan bagi affiliate lokal di NKRI tapi di luar negeri, affiliate blogger harus menaruh keterangan bahwa konten mereka mengandung rekomendasi-rekomendasi produk affiliate dan jika terjadi transaksi maka blogger akan memperoleh komisi bayaran.

Ini sebenarnya bertujuan untuk melindungi blogger secara hukum jikalau pengunjung merasa tidak puas dengan produk yang dibeli karena di dalam disclaimer dinyatakan bahwa tanggung jawab atas permasalahan dengan produk adalah sepenuhnya milik vendor sebagai pencipta produk bukan affiliate.

Di sisi lain, disclaimer ini juga memberikan opsi kepada pengunjung untuk membeli lewat link affiliate atau lewat link vendor langsung. Kalau pengunjung merasa bahwa si affiliate blogger memiliki integritas dan reputasi yang tinggi, maka bisa saja pengunjung mau memilih membeli lewat link affiliate dan sebaliknya, kalau dia merasa si affiliate ini tukang nikung bini orang, maka bisa saja dia justru beralih ke link affiliate yang ditawarkan si suami yang sah.

Nah, demikian kira-kira struktur dasar yang harus dimiliki sebuah blog yang mau dimonetize untuk affiliate marketing. Bersama dengan artikel ini, saya sertakan juga lampiran daftar tools yang saya pakai dan rekomendasikan untuk membangun struktur dasar blog affiliate saya. Untuk mendownload daftarnya, silahkan share artikel ini di salah satu akun sosial media di bawah.

Kalau seandainya ada yang ingin ditanyakan atau ditambah, monggo tinggalkan komen di bawah yak.


Info Gratis: Cara Saya Mendapatkan Uang Jajan Ekstra Sebesar Rp 420,000 Lewat 2 Tweet Iseng-Iseng Berhadiah

Isi data-data kamu di form ini agar saya bisa mengirimkan infonya kepada kamu lewat email.

privacy Data kamu aman & tidak akan dipakai buat tipu-tipu

Leave A Response

* Denotes Required Field