Sesuai dengan janji, salah satu topik utama blog baru saya ini adalah membahas ketubiran netizen universe. Jadi untuk postingan pertama, mari kita mulai dengan topik tubir.

Nah, semalam tu ada semacam ketubiran di timeline saya karena saya mentweet screencapture ketentuan pembayaran artikel di salah satu situs brand yang selama ini terkenal edgy, kekiri-kirian dan sangat bersemangatkan keadilan sosial lewat cara yang satir-satir nakal.

Concern saya di ketentuan itu adalah fee bayaran penulis yang menurut saya sangatlah sadis yaitu hanya 20 ribu rupiah per artikel dan itu pun baru bisa dicairkan setelah sukses mengirimkan 10 artikel yang diterbitkan oleh situs tersebut.

Instead of addressing substansi isunya, para bala-bala situs tersebut berusaha menjustifikasi ketentuan tersebut dengan mencoba membawa argumen mereka ke membanding-bandingkan bahwa mereka “masih lebih mending” ketimbang situs user generated content (UGC) lain yang tidak membayar kontributornya.

Padahal, situs tersebut juga mempunyai ketentuan-ketentuan lain yang berbeda dengan situs-situs UGC lain yang membuat policy bayaran noban per artikel itu sungguh sangat culas. Karena saya lagi males nulis panjang-panjang, mendingan tonton video di bawah ini aja biar lebih jelas kenapa saya menyebut bayaran noban per artikel itu culas:


    1 Response to "Noban per artikel itu culas apapun alasannya"

    • pamanmu.

      Agak menyedihkan keributannya. Usaha memperjuangkan standar fee penulisan agar lebih masuk akal justru di-cancel para flying monkeys. Menulis sebagai kerja untuk keabadian? Boleh banget. Tapi kalau naskah 1,000 kata bisa dihargai 200-500 ribu, buatku sih persetan dengan keabadian.
      Sedikit saran bang, agar script penjelasan di video bisa ditulis saja. Karena mungkin banyak yang paket datanya terbatas untuk nonton youtube, mengingat kuota 20 ribu apalah artinya. Lol.

Leave a Reply

Your email address will not be published.